Menemukan Keberkahan dan Kekuatan dalam 'Allahumma Bihaqqil Fatihah Wa Bisirril Fatihah'
Dalam setiap helaan napas, umat Muslim senantiasa mencari kedekatan dengan Sang Pencipta. Berbagai cara ditempuh, mulai dari ibadah yang khusyuk hingga doa yang tulus. Di antara lautan doa dan pujian, terdapat sebuah untaian kalimat yang begitu istimewa, sering terucap dari lisan para salafus shalih, bahkan hingga kini masih diwariskan: “Allahumma bihaqqil Fatihah wa bisirril Fatihah.” Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah pengakuan akan keagungan surat Al-Fatihah dan permohonan keberkahan serta kekuatan yang tersimpan di dalamnya.
Al-Fatihah, yang berarti “Pembuka”, adalah surat pertama dalam Al-Qur’an. Ia memiliki kedudukan yang sangat mulia, bahkan disebut sebagai “Ummul Kitab” (Induk Kitab) atau “Asy-Syifa” (Penyembuh). Setiap rakaat salat wajib maupun sunah, kita wajib membacanya. Betapa seringnya kita mengulang bacaan ini, namun seringkali kita lalai untuk memahami kedalaman makna dan keutamaan di baliknya. Kalimat “Allahumma bihaqqil Fatihah wa bisirril Fatihah” adalah sebuah jembatan untuk kita merenungi kembali esensi surat yang begitu fundamental ini.
“Allahumma bihaqqil Fatihah” – Ya Allah, dengan hak (kemuliaan) surat Al-Fatihah. Kalimat ini mengandung pengakuan bahwa surat Al-Fatihah memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Ia adalah kalam-Nya yang diturunkan untuk membimbing seluruh umat manusia. Dengan mengakui hak kemuliaan surat ini, kita memohon agar Allah SWT berkenan mengabulkan doa-doa kita karena kehormatan surat Al-Fatihah. Seolah kita berkata, “Ya Allah, surat Al-Fatihah ini begitu agung, begitu mulia di sisi-Mu. Maka, demi kemuliaannya, kabulkanlah permohonanku.”
Kemudian, “wa bisirril Fatihah” – dan dengan rahasia (kekuatan) surat Al-Fatihah. Di sini, kita memohon kepada Allah SWT dengan kekuatan dan manfaat luar biasa yang terkandung dalam surat Al-Fatihah. Surat ini bukan hanya sekadar bacaan, melainkan mengandung pondasi utama ajaran Islam: tauhid (keesaan Allah), penyucian diri dari kesyirikan, pengakuan akan kekuasaan-Nya sebagai Tuhan semesta alam, serta permohonan petunjuk ke jalan yang lurus. Keagungan surat Al-Fatihah inilah yang menjadi sumber kekuatan spiritual dan material bagi siapa saja yang mendekatinya dengan hati yang tulus dan penuh harap.
Mengapa penting untuk mengucapkan kalimat ini? Pertama, ini adalah bentuk tawassul. Tawassul adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan perantara amal shalih, nama-nama-Nya yang indah, atau makhluk-Nya yang mulia. Dalam hal ini, Al-Fatihah menjadi perantara kita untuk memohon kepada Allah. Para ulama telah banyak membahas tentang kebolehan tawassul, dan menggunakan Al-Fatihah adalah salah satu bentuk tawassul yang paling utama dan disepakati.
Kedua, ini adalah pengingat agar kita tidak sekadar melafalkan Al-Fatihah tanpa tadabbur (merenungi makna). Setiap ayat dalam Al-Fatihah memiliki makna yang mendalam:
- “Alhamdulillahirrabbil ‘alamin”: Pujian kepada Allah sebagai Tuhan penguasa seluruh alam semesta. Ini mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur dan mengakui kebesaran-Nya.
- “Arrahmanirrahim”: Pengakuan akan sifat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini menumbuhkan rasa cinta dan harapan kita kepada-Nya.
- “Maliki yaumiddin”: Pengakuan bahwa Allah adalah Raja pada Hari Pembalasan. Ini mengingatkan kita akan pertanggungjawaban di akhirat dan pentingnya berbuat baik.
- “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”: Inilah inti dari tauhid. Kita hanya menyembah Allah dan hanya kepada-Nyalah kita memohon pertolongan. Kalimat ini adalah pengakuan total atas ketergantungan kita kepada Allah.
- “Ihdinashshiraathal mustaqim”: Permohonan tulus agar diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Jalan ini adalah jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin.
- “Shiraathalladzina an’amta ‘alaihim”: Penjelasan bahwa jalan yang lurus adalah jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai atau tersesat.
Dengan memahami makna ini, kita dapat merasakan bagaimana surat Al-Fatihah mengandung kekuatan luar biasa. Ia adalah fondasi akidah, sumber keberkahan, penawar segala penyakit (fisik maupun batin), serta kunci terkabulnya doa.
Praktik mengucapkan “Allahumma bihaqqil Fatihah wa bisirril Fatihah” dapat dilakukan kapan saja. Di akhir salat, setelah membaca Al-Fatihah, sebelum memanjatkan doa-doa spesifik, atau bahkan di saat-saat kita merasa membutuhkan kekuatan ekstra. Ada banyak riwayat yang menceritakan para ulama atau orang-orang saleh yang menggunakannya, dan Allah SWT mengabulkan hajat mereka. Ini menunjukkan bahwa doa yang bersumber dari pemahaman dan penghayatan Al-Qur’an memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah.
Mari kita jadikan kebiasaan ini sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bukan sekadar mengucapkan kalimatnya, tetapi meresapi makna di baliknya, mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Fatihah, dan memohon kepada Allah dengan keyakinan penuh. Sebab, pada hakikatnya, segala kekuatan dan keberkahan hanya datang dari Allah. Dan Al-Fatihah adalah hadiah terindah dari-Nya untuk kita, sebuah pembuka segala kebaikan.